Sunday, 18 March 2012

Aku lukiskan mimpi dengan perubahan

Berubah!

Ya, ada yang berubah dari blogku ini sekarang. Jika diingat, beberapa kali dekorasi blog ini dirubah. Tak tahu kenapa, sebelum-sebalumnya tak beralasan. Apakah mungkin ini merupakan bagian dari proses pencarian jati diri? Ah, terlalu konyol jika dikatakan seperti itu. Yang jelas, perubahan ini bukan sekadar onani kreasi yang sekenanya dirubah tanpa alasan.

Perubahan ini jelas beralasan, meskipun logika awam dan tolol mengatakan bahwa ini kekonyolan. Tak apalah, yang penting saya ingin menggambarkan suatu mimpi melalui kreasi yang tertuang oleh kemampuan terbatas yang dimiliki. Maksudnya apa?

Berubah!

Kata itu terus berkeliling di setiap ruang dikepalaku. Memaksa jari-jari untuk segera menuliskan. Jelas ini hubungannya dengan blog yang baru saja selesai di rubah. Semua serba oranye.. Jingga.. kuning campur sedikit merah.. dan cerah! Tak lupa ada warna putih yang juga dominan. Warna jingga, merupakan warna sebuah mimpi. Mimpiku, mimpi yang belum terbeli.

Sebelumnya blog ini dominan dengan warna biru, warna ketenangan, warna damai dan warna penuh ketundukan. Sekarang saya rubah menjadi serba jingga, ada arti dibaliknya. Yang jelas bukan berarti berubah fanatisme klub sepak bola : Persib menjadi Persija. Jingga ini dipilih sebagai warna ambisi dari rajutan mimpi. Mimpi sebuah tanah tepi pantai, atau lebih tepatnya tanah rendah : Nederland.

Jingga memiliki identitas sebuah negeri datar di bawah laut. Nederland, tanah rendah yang terhampar di tepian benua Eropa. Tanah dimana berjuta tulip beragam warna tertanam sunyi namun ceria. Tanah dimana angin bertiup kencang menggerakan kincir yang terhubung pada turbin-turbin yang menumbuk biji-biji, memompa pengairan untuk ladang, dan membangkitkan listrik. Senyap, hanya suara desiran dan derap-derap kincir riuh rendah terdengar di ladang tulip dan padang rumput. Padang yang dihuni beberapa sapi perah, dan beberapa wanita berpakaian khas dari Volendam atau Terschelling, ditambah hentakan klompen beradu dengan tanah keras.

Aku bayangkan di suatu senja berjalan menenteng sepeda di Zuidplaspolder. Sambil menghirup udara kemenangan, menyunggingkan raut ceria dan mulai sedikit mengayuh di tanah datar polder selatan Nederland. Lalu berjalan menuju sebuah broodverkoop mencari sepotong poffertjes & waffles untuk mengisi manisnya senja. Tak lupa juga sebotol susu, dan sepotong Edam atau Gouda, menambah legitnya suasana.

Selepas perut berisi kemenangan, ku kayuh sepeda menuju megahnya hamparan afsluitdijk yang membelah selat memisahkan sang Ijsselmeer yang menjadi danau dengan Waddenmeer si laut. Kubayangkan aku mengayuh beratus kilo, tanpa keringat, tanpa lelah karena terhibur oleh indahnya impian di setiap jengkal Nederland. Sehingga tak terasa aku ada di Amsterdam. Melewati jembatan, menyusuri kanal-kanal yang berarteri.

Sampai di depan Vincent Van Gogh Museum, aku parkirkan sepeda. Selangkah demi selangkah aku masuk dan menyusuri setiap kotak lukisan maestro dunia. Menikmati indahnya lukisan fikiran penuh estetika. Lalu aku lelah, keluar, dan duduk di kursi merah di pinggir-pinggir Vincent Van Gogh Museum. Lalu aku katakan kalimat terkenal yang ditulis biarawan Flandria :  “Hebben alle vogels nesten begonnen behalve ik en u. Waarop wachten we nog?”

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah menyumbangkan buah pikiran untuk kemajuan kualitas diri saya

Bagikeun..