Sunday, 18 December 2011

Kepentingan Untuk Mengganti Korupsi Dengan Maling

Selamat waktu ketika anda baca blog ini...
Selamat juga anda pusing membaca blog yang kurang bagus ini..

Ingin menulis sebenarnya tentang apa saja, tapi akhir-akhir ini aku tak ada ide untuk dituliskan. Tapi sekarang saya coba paksa untuk menulis apapun yang mungkin saja bisa penting, mungkin saja tidak. Karena jika berbicara penting atau tidak, selalu akan tergantung pada kepentingan. Ada sebuah kutipan yang cukup cocok jika berbicara tentang kepentingan, yang intinya kepentingan merupakan keabadian. Kurang lebih seperti ini bunyinya ; "Tidak ada kawan yang abadi, tidak ada lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan dan perubahan". Sudah jelas tentunya, perubahan adalah keabadian. Dunia ini meski terkadang membosankan, tak pernah berjalan stagnan. Selalu saja perubahan itu ada, baik progresif, ataupun regresif. Tak apalah, jika perubahan memang tetap akan berjalan, karena perubahan memang diperlukan. Tapi satu lagi yang perlu digaris bawahi dari kutipan diatas, ada yang abadi yaitu kepentingan.

Sekarang, saya akan berbicara tentang salah satu elemen yang abadi ini. Kepentingan dilihat dari sudut Humanisme memang berada pada setiap step hirarki kebutuhan manusia. Memang bisa dikaitkan antara kebutuhan dengan kepentingan? Menurut saya sih, bisa. Kenapa bisa? Jika kita talar, kepentingan selalu didesak oleh kebutuhan manusia. Menjadi penting itu berasal dari dorongan kebutuhan yang belum dipenuhi. Artinya, penting menurut kacamata manusia adalah kebutuhan. Jika manusia tidak butuh, ya tidak akan penting. Misalkan, mobil itu penting? Jawabannya tergantung desakan kebutuhan. Seperti ini loh analoginya, Seorang rakyat yang lapar, ditawari mobil itu tak akan mau. Karena, yang sedang dia butuhkan adalah nasi, karena dia sedang lapar. Namun, jika ia sudah kenyang, dan akan pergi ke suatu tempat yang jauh, maka mobil itu akan menjadi penting untuknya. Dan setelah semua terpenuhi dia akan mencari hal yang penting-penting lainnya, sesuai kebutuhannya.

Perlu kita imani, bahwa manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Kebutuhan manusia akan selalu datang. Maka wajar kalau manusia merupakan makhluk yang pragmatis, karena kebutuhan manusia tak akan pernah berhenti. Jika dikaitkan, kepentingan manusia juga linier dengan kebutuhan, maka sintesisnya, kepentingan manusia tak akan pernah juga habis, dan juga artinya logika kepentingan adalah sesuatu yang abadi diterima.

Beberapa hari yang lalu, kawan saya meminta saya untuk menjadi pembicara dalam sebuah kajian di komunitas mahasiswa. Tema yang diberikan adalah tentang "Korupsi dalam perspektif Mahasiswa". Namun, kala itu saya tak bisa hadir karena ada kepentingan lain, permintaan itu saya tolak. Tapi, saya ingin sedikit mengulas tentang hal itu kali ini.

Mengkaji tentang korupsi, dapat dimulai dari pengertian apa itu korupsi. Tapi, sebelumnya saya ingin mengatakan terlebih dahulu bahwa waspadalah jika berkata korupsi, jangan terlalu banyak disebut. Kenapa memangnya? Ada sebuah kutipan, atau apalah itu namanya yang mengatakan bahwa ketika suatu kata disebut dan menjadi populer, maka kata itu akan kehilangan maknanya. Inflasi kata "Korupsi" kini memang benar-benar terjadi, setiap media massa, setiap hari pasti tertulis kata korupsi. Dan akhirnya, menyebabkan korupsi menjadi kata populer dan kehilangan makna. Bahayanya, ada sebuah penelitian di India, oleh Singh pada tahun 1974, menyatakan penyebab korupsi adalah salah satunya ialah populernya persepsi tentang korupsi. Ini sungguh mencengangkan bukan?(saya yakin anda tidak tercengang..hhe). Tapi benar juga, kata korupsi ini pantas ditabukan, agar korupsi tak menjadi persepsi populer dan dianggap biasa, karena korupsi adalah masalah yang serius. Jadi, hati-hati mengatakan korupsi, agar seperti kata 'maling' yang tak banyak disebut dan tak kehilangan makna, korupsi pun harus disejajarkan dengan perbuatan rendah seperti maling dan orang akan memaknai lebih dalam dan berhati-hati untuk melakukan korupsi.

Waduh, jadi melebar ini tulisan. Oke, kembali ke leptop! Kata korupsi, berasal dari bahasa Latin ; Corruptio dari kata kerja Corrumpere (http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi). Kenapa saya kutip dari Wikipedia? karena saya tertarik dari artikel ini tentang mengartikan korupsi yaitu sebagai kata perbuatan yang berarti BUSUK! Yang lain mengartikan korupsi itu dengan halus, kenapa harus diperhalus perbuatan yang rendah ini? Saya setuju, korupsi adalah busuk. Jadi, koruptor itu adalah manusia busuk. Pengertian secara etimologis, cukuplah kita artikan bahwa korupsi itu busuk. Secara definisi saya ingin mengutip kata Wertheim, saya tertarik mengutipnya karena mungkin agak relevan pada apa yang akan saya tulis. Wertheim menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi.

Meskipun, korupsi tidak melulu berada pada tataran pejabat, tapi yang paling sering perbuatan ini dilakukan pada wilayah birokrasi. Poin korupsi menurut Wertheim yang pertama ialah "..bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah.." Ini sedikit mengoreksi pengetahuan awam tentang korupsi. Korupsi tidak melulu mengambil hak orang, tapi juga menerima, perbuatan halus yang bernilai rendah pada konteks ini. Hal tersebut populer disebut sebagai Gratifikasi. Menerima hadiah agar mempengaruhi keputusan pejabat agar menguntungkan si pemilik kepentingan. Pada tataran pemerintahan di Indonesia, hal ini yang sering dilakukan. Tidak secara langsung pejabat 'maling' duit rakyat, namun maling dengan cara memuluskan jalan untuk maling. Korupsi yang satu ini mungkin cara yang paling elegan bagi pejabat, karena akan sulit ketahuan, dan juga akan ditafsirkan dengan berbagai jalan. Salah satu contoh yang paling hangat adalah kasus Nyunyun istrinya mantan Wakapolri Adang Darajatun (Nunun Nurbaetie), anggota hewan (Anggota Dewan), dan Asmirandah gultom (Miranda Gultom). Si Nyunyun yang ramai diberitakan katanya punya penyakit "lupa", membagi-bagikan 480 cek pelawat senilai 24 milyar kepada anggota hewan agar anggota hewan memuluskan jalan si Asmirandah menjadi Gubernur BI. Dan hasilnya, si Asmirandah berhasil jadi Gubernur BI. Saya tak akan banyak membahas si Nyunyun ini lah, nanti ngerasa kepentingan lagi itu si Nyunyun banyak diomongin sana sini. Tapi ini merupakan salah satu tindakan korupsi yang dilakukan.

Sekilas, kita lihat kasus Nyunyun ini seolah biasa. Kenapa biasa? Ya, wong si Nyunyun udah baik hati kok bagi-bagi duit ke anggota hewan. Tapi, jika ditelisik ada udang di balik batu ternyata. Nyunyun inginnya, si Asmirandah menang dalam pemilihan Gubernur BI. Jadi disini ada unsur kepentingan dibalik Nyunyun yang dermawan ngasih duit ke anggota hewan. Akhirnya, perilaku korupsi terjadi dalam hal ini, karena ada unsur menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Jadi siapa yang koruptor? Nyunyun, Asmirandah, dan para anggota hewan yang dapet bagian. Betul, yang berperilaku korup itu tak hanya Nyunyun yang memberikan Gratifikasi, tapi juga yang menerima hadiah, dan yang diuntungkan pula. Untuk hal ini korupsi memang kompleks dan tak dapat dibahas dalam kolom yang terbatas. KPK saja butuh waktu setahun kata Busyro Muqaddas untuk menyelesaikan kasus korupsi. Mana Nyunyun lupa ingatan lagi, ya tambah lama. Tapi, secara simpel titik masalahnya ada disana, dimana ada kepentingan yang bermain. Dan, jika kita kembali pada apa yang telah saya tulis tadi, maka ini didorong oleh kebutuhan Nyunyun dan si Asmirandah juga. Butuh apa mereka? entahlah, mungkin apa lagi yang paling logis selain jabatan dan duit untuk memperkaya diri. Dan ini berarti ada unsur 'maling' duit rakyat. Ini : Busuk.

Mengkaji korupsi, apalagi oleh mahasiswa, tak perlu terjebak dalam fenomena kasus. Tapi, pantas dikaji dari sisi makna. Karena, jika salah memaknai korupsi, maka salah kaprah pula si Agen op Cengeng dalam merubah tatanan. Hal ini menjadi logis karena jika tak berangkat dari makna, dan terlalu terjebak pada kasus, akan menjadikan pisau penyelesaian penyakit tumpul. Karena, hal ini diibaratkan sudah menjadi benalu atau juga kanker yang sangat kronis. Percuma saja jika benalu itu dibersihkan, atau tumor dipotong, tapi akarnya tidak tercabut. Kasus itu akan terus muncul dan tak pernah berhenti menjangkit negeri ini. Ini akan menjadi bahaya jika dari hal yang elementer tidak diselesaikan. Bahayanya, negara ini akan gagal. Seperti halnya gagal ginjal, negara gagal akan mematikan semua organ yang ada didalamnya. Dan ini jelas menjadi tugas mahasiswa untuk mengatasinya. Karena, ya siapa suruh pengen disebut Agent Of Change, meski nyatanya hanya Agen op Cengeng.

Yang perlu dimaknai, korupsi ini timbul dari hal yang abadi, yaitu "Kepentingan". Kepentingan seperti sedikit diulas tadi didorong oleh yang namanya kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia adalah hal yang tak akan pernah selesai. Jadi dapat dikatakan bahwa korupsi, selama dijadikan salah satu pemenuh kebutuhan, tidak akan pernah selesai. Artinya, yang diperlukan adalah bagaimana menjadikan korupsi itu tereliminasi dari daftar pemenuh kebutuhan manusia. Caranya dengan mempersempit kesempatan untuk menjadikan korupsi sebagai salah satu pemenuh kebutuhan manusia. Karena korupsi ini sering terjadi di tataran birokrasi dan pemerintahan, maka penyempurnaan aturan atau undang-undang yang seminimal mungkin mempersempit kesempatan untuk melakukan tidakan ini. Ainan (1982) menyebutkan bahwa salah satu yang menyebabkan tindakan korupsi ini muncul, yaitu karena kurang sempurnanya perumusan undang-undang. Maka dari itu, penyempurnaan undang-undang menjadi penting untuk menghilangkan kepentingan koruptor.

Selain itu, yang perlu dilakukan mahasiswa adalah memupuk benih generasi bangsa agar tidak menjadi generasi bangsat. Satu yang paling esensial dalam mewujudkan hal ini yaitu kejujuran. Kejujuran di negeri ini sudah sedemikian kritis, bahkan mungkin sudah setengah mati. Karena kejujuran sudah dijadikan sebagai hal yang disebut "so suci" atau "kuno" jika jujur. Itu sebenarnya virus yang ditularkan oleh para bangsat sebenarnya, dan menjadi konsensus dengan sendirinya. Jujur itu menjadi hal yang harus menjadi iman para mahasiswa, karena menjadi mahasiswa adalah belajar untuk jujur sejak dalam pikiran. Contoh yang paling dekat dengan mahasiswa adalah fenomena menghalalkan segala cara demi hal yang tidak penting, Nilai! Mahasiswa kadang melakukan segala cara demi IP 4,0. Mulai tugas yang copy paste tanpa mengutip sumber, mencontek dalam ujian, dan berbagai cara 'cerdik' lainnya demi hanya nilai dari dosen. Ini sungguh tolol dilakukan mahasiswa, karena dengan cara itu saya katakan anda tak akan menjadi berkualitas. Mahasiswa tak akan menjadi berkualitas jika lulus dengan nilai IPK 4,0 dengan tidak jujur pada diri sendiri. Meskipun semua selalu melihat dari besaran nilai, tapi akhirnya yang akan menjadi bukti adalah kualitas dalam kenyataan. Coba pikir wahai Agen op Cengeng..

Dan yang terakhir, saya ingin katakan dari dulu sekali tentang hal ini. Semua orang, tolong, mulai sekarang ganti kata korupsi maupun koruptor dengan kata "Maling!" atau "Bangsat" saja. Karena perbuatan busuk yang disebut dengan istilah keren akan menjadi tren. Kata korupsi sulit diartikan oleh awam, tapi kata maling, akan mudah dimengerti dan yakin tak akan menjadi trendi. Saya selalu yakin, kenapa korupsi terlalu merajalela di negeri ini, karena korupsi telah menjadi tren dan dianggap biasa, malah mungkin hal yang wajar dilakukan pejabat. Seperti halnya wajar petani itu mencangkul, korupsi juga akan menjadi wajar oleh pejabat. Dan apa salahnya pula dikatakan seperti itu, biar para koruptor itu sadar, mereka yang menjabat itu tolol, sudah punya kedudukan terhormat tapi berbuat hal yang memalukan : Maling!. Kata Nagabonar itu "Apa Kata Dunia?"

Sekian tulisan dari saya, kesimpulannya, silahkan simpulkan sendiri-sendiri lah biar fair,, kalau tidak mengerti, dan tulisan ini jelek, ya mohon maklum lah, saya penulis pemula.. hehe.. Semoga bermanfaat, terimakasih sudah menyempatkan membaca ceracau saya yang mungkin kurang penting bagi anda. :)
Selengkapnya...

Bagikeun..