Thursday, 29 July 2010

Kuliah Nggak Jelas

Beberapa waktu yang lalu ketika ujian akhir semester, saya ditugaskan untuk mengerjakan soal matakuliah TI dalam BK, waktu itu saya melihat soal yang diberikan pak dosen yang menjadi syarat untuk lulus mata kuliah tersebut. Namun ketika saya baca soal tersebut… O.o lho koq, ini soal tidak merepresentatifkan apa yang telah dipelajari selama satu semester dalam mata kuliah ini?? Saya jadi tertawa sendiri melihat soal yang begitu banyak, kata istilah bahasa latinnya “Ngacapruk”.
Sungguh aneh, ketika dalam mata kuliah, materi materi yang diberikan dalam silabus berisi materi materi kontekstual mengenai penggunaan teknologi informasi yang menurut Haag dan Keen (1996), Teknologi Informasi adalah seperangkat alat yang membantu kita bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan.yang mendukung pemrosesan pelayanan bimbingan dan konseling. Definisi bimbingan dan konseling sendiri ialah kita bisa mebaginya pada kedua kata yang berbeda tersebut yaitu kata “Bimbingan” dan “Konseling. Bimbingan sendiri atau Guidance dapat diartikan sebagai suatu proses bantuan terhadap individu untuk mencapai perkembangan yang optimal (Kartadinata, 1998:3) sedangkan definisi Konseling ialah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan kesempatan pada konseli oleh seorang konselor untuk membantu permasalahan yang dihadapi konseli/klien dengan kemampuan yang dimiliki konselornya (American School Counselor Association). Jadi, bisa ditarik suatu definisi utuh mengenai Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling yaitu “Seperangkat alat teknologi yang mendukung pemrosesan informasi dalam pelayanan bantuan terhadap individu untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya serta peralatan pemrosesan informasi yang mendukung dalam serangkaian upaya konselor membantu konseli/klien dalam masalah yang dihadapinya.” Jadi menurut hemat saya, definisi TI dalam BK itu adalah penggunaan teknologi untuk membantu proses layanan bimbingan dan konseling. Maka dari itu, saya bisa katakan bahwa penggunaan seperangkat system Teknologi dalam pemrosesan informasi yang tidak digunakan dalam rangkaian proses pelayanan bantuan terhadap peserta didik, bukan termasuk dalam konteks pembahasan TI dalam BK. Bukan begitu?

Saya teringat, dalam perjalanan mengikuti mata kuliah ini, saya mempraktikkan salah satu teknik penggunaan tools dalam Microsoft Word, yaitu Mail Merge. Nah loh O.o? waktu itu saya sedikit mengkerutkan dahi, kok calon guru Bimbingan dan Konseling atau calon konselor yang mempunyai tugas membimbing peserta didik serta melayani dan memberikan bantuan kepada siswa, diajari untuk melakukan tugas pegawai administrasi? Mata kuliah ini mengajarkan untuk menjadi guru bimbingan atau jadi TU? Waduh, saya tidak habis fikir..hhe.. saya ingat apa yang dikatakan salah satu dosen saya ketika perkuliah dalam mata kuliah lain, dia mengatakan “Saat ini kebanyakan guru Bimbingan dan Konseling malah menjadi TU, padahal tupoksi dari Guru BK itu bukan itu, makanya hal ini menjadi salah satu penyebab guru BK ini dipandang sebelah mata dan tidak professional menjalani tugasnya sebagai konselor disekolah…” kurang lebih seperti itu. Hal ini sangat kontras dan sangat jelas bertentangan dengan apa yang diajarkan pada praktik mata kuliah TI dalam BK. Saya memang tidak memandang bahwa pelajaran mengenai Mail Merge itu tidak penting, namun jika dikaitkan pada konteks pelayanan bimbingan dan konseling hal ini mungkin menjadi suatu pertanyaan besar, bukankah akhir-akhir ini gencar membicarakan tentang profesionalisasi di bimbingan dan konseling, tapi kenapa kok masih ada hal yang saya fikir kurang esensial diberikan kepada mahasiswa BK dalam proses perkuliahan? Ini menjadi suatu hal yang sedikit menggelitik di benak saya…hhe…

Dalam pembahasan pembahasan mengenai pelayanan bimbingan dan konseling, dalam pengamatan awam saya, perasaan saya belum menemukan tentang Konselor juga ikut mempunyai tugas dalam administrasi sekolah (Seperti membuat undangan dan mail merge) bahkan dalam mata kuliah manajemen bimbingan dan konseling pun tidak sedikitpun dibahas mengenai hal itu, bahkan mengatakan jika guru BK yang malah ditugaskan dalam hal yang sepatutnya ditugaskan kepada pegawai administrasi di sekolah merupakan salah satu pengikis keprofesionalan seorang konselor.

Sebelum mengikuti perkuliahan ini, yang saya fikirkan pertama kali dalam benak saya ialah pengembangan program layanan bimbingan dan konseling dengan pengaplikasian system teknologi informasi, namun apan yang saya harapkan justru berbeda dengan apa yang saya pelajari dalam mata kuliah ini. Saya katakan mungkin masuk akal jika dalam mata kuliah ini memperlajari tentang pengembangan software untuk menganalisis prestasi, perkembangan, atau kepribadian siswa. Mungkin hal itu yang lebih esensial ketimbang pengolahan data jumlah siswa di excel. Saya sempat berfikir, apa sih yang saya dapat dalam mata kuliah ini?hhe…sayapun tak tahu…(Geje…ahh) hehe…

Dalam proses kuliah dari mulai konsep, saya kira masih masuk akal, namun kok dalam praktek malah berbeda? Lalu soal UAS nya lebih saya tidak faham. Masa ada, materi kuliah satu semester yang dipelajari, beda sama soal UASnya? Hhe…sampai sekarang saya masih berfikir, saya yang bodoh atau ada yang salah ya?? Sungguh aneh tapi nyata…hhe… dalam soal UAS soal yang pertama ialah mengenai issu yang sedang hangat, yaitu disuruh menganalisis menurut perspektif TI dalam BK “yang telah anda pelajari” mengenai fenomena kasus Ariel dan Luna Maya? Saya sedikit tertawa membaca soal ini, karena ada suatu kontradiksi dalam hal ini, yang pertama kok saya belum pernah merasa mempelajari mengenai analisis perspektif TI dalam BK terhadap fenomena? Pemahaman tentang Perspektif TI dalam BK pun perasaan belum tersentuh dalam perkuliahan yah? Kalo soal bikin undangan sih pernah…hhe…

Fenomena ini mungkin bukan saya saja yang merasakan namun mahasiswa yang lainpun merasakan, saya pernah bertanya kepada salah satu mahasiswa yang nilai akhir mata kuliah ini B (saya lihat semua dapat B…nah…KOK ANEH YAH? Tidak Objektif kok keliatan banget?? Hahha…) apa sih pemahaman esensial kamu mengenai Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling? Dan jawabannya…”Nggak Ngerti”..haduuwhh,,,yang dapet B ajah nggk ngerti.,..apalagi sayah yang Dapet “BL”…hhe..

Jika berfikir pragmatis mungkin saya juga bisa mendapatkan B, karena Rata semuanya dapat B, namun Masihkah Nilai itu penting jika kualitasnya kurang dapat dipertanggungjawabkan? Saya kira tidak penting Nilai A,B,C, atau bahkan Z juga, namun yang paling penting adalah Kualitas pemahaman yang mumpuni dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis, bukan begitu? Ini sungguh hal yang ironis, di sisi lain adanya suara suara yang mengharapkan peningkatan kualitas, disisi lain ada pendangkalan paradigma mengenai ketercapaian kompetensi, hampir semua diukur dengan angka, atau hurup yang juga merepresentasikan angka tentunya. Sedangkan saya pikir kualitas itu belum tentu semua dapat diukur secara kuantitas. Apalagi penilaiannya tidak objektif, apalagi dosennya jarang ngajar, apa kata dunia? Hhe,,,piss… ^_^V
Selengkapnya...

Thursday, 22 July 2010

Bualan Dibalik Cermin

cerita bualan.
apa yang selau kau sebut dengan keadilan?
bahwa dengan mereka tertindaskah yang kau sebut keadilan?
tahukah apa yang ku sebut dengan nurani?
atau bahkan kau tak pernah mengalami empati??

selalu berjalan gagah tanpa hirau
namun isinya hampa
kau bagaikan kubah emas ditopang penyangga rapuh
tertiup semilir kritikanpun kau akan hancur
dimana kegagahan yang digemborkan?
bualan

sampai hati kau memeras lap butut yang tak berair
untuk menghirup udarapun mereka harus berfikir
tak sadarkah engkau jika tak lama tupai akan jatuh pula?
atau kau tak peduli dan menghiraukan segala bisikan empati? Selengkapnya...

Bagikeun..