yoezron
Wednesday, 8 February 2012
Manusia : Tahu Menuju Ketidaktahuan
Dia hidup tanpa bekal pengetahuan. Untungnya, setiap apa yang dilihat, setiap apa yang diraba, setiap apa yang didengar, dan yang dicium, selalu menjadi nilai belajar. Nilai yang membuat dia semakin tahu, dan tahu.
Awalnya tak berdaya, tapi akhirnya sok mahadaya. Awalnya hanya binatang, tapi lama-lama berangan menjadi tuhan. Awalnya hanya keluguan, tapi semakin lama semakin pongah. Awalnya hanya mencoba, tapi akhirnya merasa paling ahli.
Manusia lahir dengan ketidaktahuan, maka itu dia mencari tahu. Segala hal yang ada dicari pengetahuannya. Selalu ingin tahu, selalu ingin semuanya tahu. Saking berhasratnya ia untuk menjadi tahu, sampai-sampai ia lupa bahwa ia diberikan penyesalan.
Ketika tahu, betapa senangnya. Gembiranya ia semakin menjadi tahu. Sehingga dengan ia tahu, akhirnya menciptakan pengetahuan baru. Setelah tahu ia menjadi sombong atas pengetahuan yang dipunya. Ah, betapa bahagianya menjadi seorang yang tahu. Tahu segalanya, tapi jadi lupa segalanya.
Manusia tahu, semakin tahu, bahwa pengetahuannya hanya membuatnya sadar bahwa dia tidak tahu dan tidak sadar. Semakin banyak ia tahu, semakin banyak yang ia tidak tahu. Ia lupa, bahwa dengan tahu, ia akan mencapai satu pengetahuan yang membuatnya tahu bahwa ia banyak melupakan sesuatu. Ia lupa, bahwa orang yang tahu, akan menyesalkan bahwa ia tahu. Ia lupa, bahwa tahu akan mengantarkannya pada pengetahuan yang mebuatnya akan melupakan pengetahuannya. Ah, sungguh kasian menjadi seorang tahu. Tahu segala, tapi menjadikan lupa segala, dan penyesalan yang tersisa.
Pada saatnya, seorang yang tahu akan menyesali atas pengetahuannya. Itu alasan kenapa masa kecil adalah masa indah untuk mencari tahu. Karena, setelah tahu, maknanya seorang akan semakin memandang dunia lebih terbatas. Terbatas karena pengetahuannya. Padahal pengetahuan adalah hal yang luas. Tapi karena tahu, kesempitan semakin terlihat jelas.
Sungguh menyesal menjadi tahu, karena dengan tahu, jadi tahu bahwa hal yang tak perlu diketahuipun diketahui. Tahu, menahu itu hanya bagian sebuah proses mencari pengetahuan. Tapi setelah semuanya tahu, akhirnya dengan tahulah kita semakin ingin untuk menjadi tidak tahu.
Sebuah titik ketika semua ke”tahu”an dan pengetahuan adalah hal yang paling menyiksa. Yang membuat semua syak dan prasangka bermunculan. Yang membuat semua sadar, bahwa tahu adalah sebuah proses untuk sadar bahwa kita terlahir untuk ketidaktahuan. Dan ketidaktahuan adalah puncak dimana seseorang tahu bahwa dia tidak tahu.
Dan akhirnya, semua tahu akan dikembalikan. Tahu akan menjadi bumerang yang kembali setelah melewati titik jauh dari wadah ketahuan. Dan setelah jauh, semakin sadar, bahwa manusia lahir untuk tahu, tapi tahu membuat sadar, bahwa tahu adalah jalan untuk mengantar manusia kembali menuju titik lahir : bodoh dan tidak tahu.
Selengkapnya...
Sunday, 18 December 2011
Kepentingan Untuk Mengganti Korupsi Dengan Maling
Tuesday, 27 September 2011
Belajar Adalah Kebahagiaan

Ah, bertemu kembali dengan tulisanku yang masih acak-acakan dan tak puguh jugjrug. hehe..
Malu sebenarnya saya ini memperlihatkan kembali tulisan di blog ini, karena sekian lama aku tinggalkan media pribadiku ini.. *banyak "ini"nya,,, yah,,inilah..
Berbulan-bulan kulalui tanpa sepatah katapun aku tulis. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menulis, tapi entah setan apa yang masuk ke dalam dadaku, semangat untuk menulis itu dengan mudah luntur, dan malah menjadikanku lebih senang berbaring ditempat tidur.
Bulan demi bulan yang telah kulalui belakangan ini memberikanku banyak peristiwa dan makna yang dapat difikirkan dan dijadikan pelajaran. Namun, karena terlalu banyaknya peristiwa yang kulalui, aku jadi lupa dan bingung, dari titik mana aku harus menuliskannya, sungguh terlalu banyak. Mungkin, inilah yang disebut dengan kebingungan yang tak terstruktur.. hehe.. apa tuh?
Sebenarnya, jika aku mau menarik makna dari perjalanan hidup yang telah kulalui, aku bisa. Tapi apa daya, rasa haroream dan kedul yang menggunung membuatku hanya terbaring tanpa melakukan apapun. Ah, benar kata Rasulullah S.A.W : "Alkasalu da'unn" sungguh malas itu penyakit. Padahal, jika aku ambil makna dari hidup yang kujalani, mungkin aku akan lebih bijaksana dan mendapatkan banyak ilmu. Seperti sebuah kutipan yang pernah aku baca di buku..mmmh..yang mana ya, kalau tak salah bukunya Paolo Freire dan Ivan Illich yang judulnya "Menggugat Pendidikan", katanya di dalam pengantar, "setiap orang pernah menemukan apel yang jatuh, dan dari sekian banyak itu tak ada yang menghasilkan apa-apa dari kejatuhan apel dikepalanya, kecuali makian dan cacian, namun hanya Newtonlah yang dapat mengambil satu kebijaksanaan dari kejatuhan apel itu, dan menciptakan suatu teori gravitasi yang bermanfaat sepanjang masa.." Itulah, aku yakin sebenarnya disetiap peristiwa yang pernah kita lalui itu bermakna dan dapat dijadikan suatu pelajaran."
Namun, yang jadi masalah, kita terlalu disibukkan dengan fikiran-fikiran instan tentang kata belajar. Kenapa demikian? ya, kita terlalu terperangkap dengan keformalan-keformalan yang sehari-hari disuguhi. Padahal, belajar bukanlah hal yang perlu berada pada ranah formal saja, namun belajar juga dapat dilakukan kapanpun asal disadari dan dimaknai. Jika kita terawang ke abad-abad awal, penemuan ilmu bukanlah berasal dari sekolah atau pendidikan terstruktur lainnya. Melainkan berasal dari sikap skeptis, dan keradikalan dalam berfikir.
Coba tengok, Thales dari Milethus, sang filsuf pertama, pemikiran-pemikiran dia berasal dari diskusi-diskusi dan waktu luang yang dia dapatkan ketika dia selesai berdagang. Dia, seorang yang meletakan batu pertama tentang ilmu filsafat, geometri, astronomi, dan sering juga disebut sebagai enterpreneur pertama, mendapatkan pengalaman intelektualnya bukan dari sekolah. Namun, dia menemukan segala kebijaksanaan ilmunya dari berbagai pengalaman dan perjalanan hidupnya. Melalui diskusi-diskusi di waktu luang, yang jelas-jelas bukan dari ruangan sempit berbangku dan berguru. Dia mencari guru dari alam, dan pengalaman yang dimaknainya sehingga dia mendapatkan suatu kebijaksanaan ilmu. Bahkan, dia mengatakan bahwa orang yang bahagia adalah orang yang selalu belajar, seperti yang dikatakan Thales orang yang bahagia adalah "Orang yang sehat jasmaninya, kaya jiwanya, dan mau belajar sepanjang hidupnya.. Tuh nya, ceuk si taleus ge, diajar mah dimana we,, hehe..
Dari kutipannya tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa belajar, yang selama ini (mungkin) dianggap sebagai beban, kewajiban yang mengikat, identik dengan "berat" atau hal yang negatif lainnya, seharusnya dijadikan sebagai jalan untuk mendapat kebahagiaan. Bahagia seharusnya ketika kita belajar, dan janganlah kita mempersempit ruang gerak kita untuk belajar hanya di kelas atau disekolah saja, bahkan disetiap watu dan tempat adalah ruang untuk pencarian kebenaran. Ya, benar, waktu adalah hal yang paling bijaksana karena waktu akan menyingkap segala kebenaran.
Masih belaum yakin? Kita beranjak ke tokoh yang kedua, masih dari dunia filsafat yang memang menjadi ibu dari segala pengetahuan yang berkembang. Yang saya akan ceritakan saat ini adalah seorang bapak tua, hehe..bukan, tapi bapak filsuf modern. Siapa dia?? Ya, benar... dialah Rene Descartes. Descartes adalah orang yang disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern dunia. Kenapa? Karena, dari hasil pemikiran filsafatnya, menjadi inspirasi bagi generasi filsuf yang hidup setelah dia. Pemikiran-pemikirannya dijadikan landasan dari pengembangan ilmu-ilmu di masa setelahnya. Dalam sejarah barat modern, dia sangat berpengaruh besar, pemikirannya menggiring para filsuf generasi setelahnya untuk membentuk apa yang disebut sebagai "Rasionalisme Kontinental". Jika anda menyaksikan aliran-aliran modernisme yang sekarang kita lihat, nah, si bapak tua inilah yang sedikit banyak membantu meretasnya.
Dia memang seorang yang cukup hebat, kenapa? bayangkan, waktu dia berumur 9 tahun, dia sudah belajar logika, filsafat, fisika, dan etika. Sepanjang hidupnya dia tak henti belajar, sehingga dia banyak menelurkan beberapa karya yang menjadi tilam dasar pengetahuan modern. Kutipan yang sangat terkenal yang pernah dia katakan adalah "Cogito Ergo Sum" Naon tah si sakadang Cogito Ergo Sum teh? Artinya yaitu "Aku berfikir, maka aku ada"! yah, pasti pernah kita mendengar kalimat itu. Dan jika kita refleksikan, itu sangat dapat kita setujui. Yang dinamakan ada itu ya ketika kita berfikir. Coba saja, dalam sekelompok orang, keberadaan orang yang berfikirlah yang eksis dan dikatakan ada. Bener ga? Okeh, kita coba analogikan, anda tau Albert Einsten? Anda tau Isaac Newton? Atau anda tau Thomas Alfa Edison? yang tak tahu, berarti belegug tah. hehe... Anda pasti tau, tapi coba saya tanya, Siapakah nama tetangga Albert Einsten? atau siapakah teman bermain Newton waktu dia kecil? Anda tahu? Bere permen tah mun nyaho, tapi sapotong digegel heula ku uing.
Ya, anda pasti tidak akan kenal, kenapa? karena mereka tidak berfikir seperti Einsten maupun Newton. Dan disinilah yang disebut bahwa keberadaan atau keeksisan seseorang itu berasal dari keberfikirannya. Aku berfikir, maka aku ada. Jadi, dapat disimpulkan, jika anda tidak pernah berfikir, anda adalah bukan apa-apa bagi dunia, dan jika anda berfikir, dunia adalah segalanya untuk anda. Maka berfikirlah, darimana kita berfikir? ya berasal dari belajar. karena belajar adalah suatu kegiatan berfikir, dimana kita tidak berfikir, kita tidak belajar.
Seperti apa yang dikatakan Pramudya Ananta Toer, tau kan siapa dia? ah, asa piraku we teu apal mah. Dia pernah mengatakan dalam bukunya, "Orang boleh hebat, sehebat apapun didunia ini, tapi selama dia tidak menulis, dia tidak akan tercatat dalam sejarah". Menulis itu berasal dari fikiran, kita mungkin sering menulis, tapi apakah tulisan kita berasal dari kegiatan berfikir? sungguhlah, tulisan yang akan membuat kita tercatat dalam sejarah adalah tulisan yang bermakna dan berasal dari keberfikiran kita. Pram juga pernah mengatakan hal yang sama yang pernah dikatakan oleh Thales tentang belajar merupakan sebuah kebahagiaan. Pram mengatakan dalam bukunya yang berjudul "Bumi Manusia" salah satu tetralogi pulau buru, dia mengatakan "Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai : ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya." Ahh... sungguh kalimat yang sangat elok, disana tersirat bahwa sungguh menyenangkan dan bahagianya ketika memiliki ilmu pengetahuan. Dan sudah barang tentu, ilmu pengetahuan itu bukan berasal dari "ujug-ujug" ataupun berasal dari jimat mbah dukun, tentunya ilmu pengetahuan itu didapat dari proses belajar.
Nah, begitulah sodara-sodara sebangsa tanah dan sebangsa air, ceracau saya tentang apa yang dinamakan belajar, sebenarnya masih banyuak yang saya ingin katakan dalam tulisan ini, namun apa daya seluruh badanku cangkeul dan sangat linu, karena duduk terbungkuk pantat tepos diatas tembok dingin kosan berjam-jam. Mungkin, saya akan lanjutkan tulisan saya tentang belajar yang open minded, atau belajar yang tidak mengalami penyempitan persepsi. Ini hanyalah pengantar saja, pengantar untuk muntah, pengantar untuk berak, pengantar untuk pingsan, hehehe... Tapi insya allah, jika saya berkenan, saya akan lanjutkan tulisan tentang hal ini (Loh?), karena banyak yang ingin saya katakan, misalnya tentang metode pendidikan kritis atau pendidikan yang membebaskan, yang mengupas tentang kesalahan pendidikan yang konservatif dan fundamental yang masih dipertahankan sampai saat ini. Di lain waktu jika saya tergerak kembali untuk menulis, saya akan menulis.. insya allah...
Sekian dari sayah, wallahu a'lamu bishawab.
Selengkapnya...
Tuesday, 11 January 2011
Smile And Happy... For A Better Life
Okay, saya mulai, oyah.. ini merupakan tulisan pertamaku di tahun yang baru, tahun seteleh 2010 dan tahun yang kebetulan juga sebelum 2012. Ya, 2011! Di tanggal sebelas, dan di bulan satu.. ah tapi itu tidak penting, apalah arti tanggal dan angka-angka itu, karena yang penting adalah kita bagaimana mengisi hari ini dengan sangat bahagia. Iya, bahagia, karena kalau kita terus murung tak bahagia, berarti anda sedang depresi! Hehe…
Di awal tahun ini memang tak ada sesuatu yang aneh atau yang baru, kecuali satu… ada yang baru..hehe…ya karena sekarang dominan dengan angka satu, yang kecualinya juga Cuma satu, mau tau? Mau tau?? Jreng..jreng… ini loh yang baru, namanya : SEMANGAT!
Ya, semangat inilah yang harus aku perbaharui di hari yang baru ini, karena di tahun 2010 kemarin aku memang sangat dipusingkan dengan hal-hal yang tidak penting, dan tidak banyak membuat apapun yang berarti, hari hari kemarin memang suram, namun jika terus tenggelam dalam kesuraman, itulah bencana! Karena jika dibiarkan kita akan terus mengalami kesusahan dalam menjalani kehidupan. Dan dipagi hari pada tanggal ini aku sedang mendengarkan lagu dari FRENTE dengan judul, Open Up You’r Heart [And Let The Shunshine In]. Lagu inilah yang menggambarkan suasana hatiku pagi hari ini, berikut isi liriknya :
Dalam lirik yang dinyanyikan oleh Angie Hart bersama bandnya ini sunggguh menjadi pemicu semangat, dalam liriknya tersirat bahwa kita haru segera membuka hati kita untuk melihat kecerahan dunia, karena jika tidak, hidup kita akan dirundung setan-setan yang hanya menciptakan masalah dalam hidup kita, dan si setan itu takkan meninggalkan kita jika hati kita diisi dengan kemurungan, kegelapan kesedihan maupun kekelaman, jadi marilah kita buka hati dengan keceriaan dan hadapi sang mentari dengan tersenyum lebar.
Tersenyum lebar, ya, kita tak boleh terlepas dari tersenyum, kita harus tetap mengisi kehidupan kita dengan gembira, karena dengan itulah kita dapat melalui kehidupan kita dengan mudah dan penuh semangat. Dalam lagu diatas, Frente memberikan pesan bahwa : Smilers never lose ! and frowners never win! So let the sun shine in! Yeah,,itulah yang aku suka, yang tersenyum takkan pernah kalah dan yang bermuka masam takkan pernah menang! Jika dikaitkan dengan pencapaian target kehidupan, ungkapan itu sangat masuk akal, kita sekali-kali takkan pernah meraih kemenangan dan kebahagiaan ketika kita menghadapi masalah dengan muka masam, tapi ketika kita menghadapi semua tantangan dengan senyuman dan kebahagiaan, apapun hasilnya, kita akan tetap menang.Jadi, intinya kita harus tetap menghadapi segala tantangan dan masalah yang dihadapi dengan senyuman dan mengalahkan setan-setan murung yang akan mengikuti kita ketika kita murung.
Just open up your heart and let the sun shine in...Everybody
Thursday, 30 December 2010
Memori Sesaat
Pagi mulai datang. Ahh,,matahari kini juga bersinar seakan menari untuk kebahagiaan dunia. Aku disini, tetap disini terbaring diatas kasur lepek di ruangan kecil berwarna biru, meski sempit terlihat ruangan ini dengan buku-buku kuliah dan baju-baju bekas yang berserakan yang tak sempat ku cuci, namun ini duniaku, dunia yang terbebas dari segala keresahan dan hiruk pikuk di luar sana. Hatiku hari ini sedang tidak biasa, perasaan bergejolak, bagaikan amukan eksplosif lahar gunung merapi. Aku tak tahu kenapa ini terjadi pada diriku, perasaanku terasa galau, namun ringan, seperti helaian kapas yang melayang jatuh diudara. Disini, dikamar ini aku ingin memulai suatu cerita, cerita yang mungkin biasa, namun kebiasaan itulah yang membuat hal ini tidak biasa.
Dengan langkah gontai dan penuh kemalasan, aku keluar dari peraduanku menuju ruangan yang biasa dipakai orang mandi. Apalah itu namanya, yang penting tempat mandi. Aku segera membasuh mukaku dan mulai menanggalkan pakaian untuk segera merasakan guyuran air yang dingin. Aku berharap, dengan ini aku bisa segar, karena sudah sehari kemarin aku tidak mandi. Bukan aku tidak mau, tapi rasa malas ini sunggguh kuat. Setelah itu, biasa, aku memakai pakaianku kembali, yang berbeda tentunya dari kemarin. Aku lalu terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan aku lakukan hari ini. Ahh, betapa bodohnya aku ini, menentukan apa yang akan aku lakukan hari inipun aku harus berfikir lama.
Lalu aku putuskan untuk jalan-jalan ke tempat yang sangat dekat, namun tak pernah aku lalui.Akupun berjalan dengan penuh harapan akan menemukan kebahagiaan, entah itu menemukan uang satu koper di jalan, atau menemukan seseorang yang mau memberiku sebuah mobil mewah. Aku terus berjalan menyusuri jalanan ke kampusku, kampus yang hampir tahun kedua aku belajar di dalamnya. Dengan langkah dan tatapan yang kosong, aku berjalan sendiri, oh, betapa sepi hari ini, mahasiswa-mahasiswa memang sedang libur, karena pekan ini memang pekan sunyi.
Setelah lama aku berjalan, tak terasa aku sudah sampai ditempat dimana aku rasa tempat ini belum pernah aku datangi sebelumnya. Tapi sungguh indah jika berdiri diatas tembok ini. Tembok depan bangunan sejarah yang berdiri dengan sombongnya. Aku lihat, dari sini, bangunan yang penuh tirani ini sungguh sombong memandang hamparan rumah-rumah dikota ini. Huum, bangunan megah berwarna putih ini pasti membuat iri para rakyat yang sampai saat ini tak punya akta tanah, meski telah berpuluh tahun berdiam. Aku, tak peduli megahnya bangunan ini, bangunan bersejarah yang dahulu diperuntukkan bagi orang pengasingan, kini dijadikan kantor para pejabat bergelar profesor.
Akupun kembali memalingkan mukaku dari bangunan itu, memandang hamparan kota yang terlihat seperti mangkok. Semilir angin menemaniku disini, berdiri dengan pikiran yang kosong, dan juga tatapan yang masih kosong. Aku tak takjub sedikitpun, tapi hembusan angin dan riak air membuat perasaanku terasa indah. Akupun duduk, kembali melamun sembari melihat indahnya mega putih di jagat yang biru.
Seketika aku teringat tentang cerita hidupku yang penuh liku. Hari ini memang aku mendapatkan hal yang sangat membuat hatiku rapuh. Ya, aku, aku yang dikenal oleh seseorang sebagai seorang yang kelihatannya tegar namun aslinya rapuh. Dia, satu-satunya orang yang bilang itu kepadaku, memang karena dia sangat mengenalku, dan sebaliknya diriku yang bodoh, tak pernah mengenalnya dan menyia-nyiakan keberadaannya ketika didekatku, dan kini aku menyesal dibuatnya ketika dia memang benar-benar pergi dari hidupku.
Angin yang semakin kencang meniupkan ejekan kepadaku, seakan ingin menerbangkan sisa-sisa tubuhku yang terpecah karena rapuh. Aku terima, meski diriku tak goyah sedikitpun dari lamunanku. Ini memang cerita, aku tau benar apa yang terjadi sebenarnya, aku kecewa ketika kalimat itu masuk ketelingaku, telinga yang kecil, namun sampai menggetarkan hati dan jiwaku. Rasa yang penuh rahasia sungguh purna sekarang.aku takkan mengharap lagi sesuatu yang diluar kendaliku. Perlahan aku putuskan akan menerbangkan segala apa yang kurasakan saat ini. Bersama angin, bersama riak air yang penuh ikan mas dibelakangku. Ingin rasanya aku buang jauh-jauh pikiran ini, andai aku bisa mengambil sebagian ingatanku tentangnya untuk ku buang ke kolam dibelakangku, dan aku harap ingatan ini dimakan para ikan yang kelaparan.
Satu persatu ingatan yang runut aku buang, dimulai ketika dia masuk dalam ingatanku, panggilan dia kepadaku yang pertama, yang membuat aku tersenyum sendiri.ah,,biarlah, ini tak perlu ku buang, biarkan tetap tersimpan, karena terlalu indah. Lalu memori kedua, gurauan-gurauannya yang sungguh membuatku tersenyum bahagia, oh, sungguh indah, tapi tak bagus jika aku terus terbuai dengan memori indah ini, ini akan membuatku tenggelam dalam ingatan yang tak nyata keberadaanya. Ini harus ku buang, meski berat. Dan begitupun dengan memori-memori selanjutnya, yang pernah menyelam ke dalam palung hatiku yang dalam, berenang, dan bermain-main dengan solar plexus dalam diriku. Sungguh, jika kuingat saat itu, saat yang indah dalam perjalanan hidupku, namun aku tak boleh terbuai dalam bayang semu yang tak tentu keberadaannya.
Kini, semua telah ku buang, aku terbebas lagi dari buaian buaian kosong yang berupa ilusi. Ini memang bagian dari pengalaman hidupku, hidup yang semu, namun kubalut dengan keindahan-keindahan nyata yang sebenarnya palsu. Dan kini aku kembali terduduk diam sendiri, menikmati lirih angin sendu sambil menatap pemandangan yang ternyata indah jika aku memandangnya dari sisi yang lain. Aku tak kecewa, namun sebaliknya aku bahagia, karena hatiku menginginkan kebahagiaannya, meski tak berwujud aku. Aku tengadahkan kepalaku ke langit senja hari ini. Rintik hujan mulai turun! Hey, ini suatu keanehan yang nyata, aku sangat lihat, langit diatasku tak berawan, sangat cerah, tapi kenapa rintik hujan mulai turun? Darimana datangya? Apakah ini yang disebut dengan hujan tanpa awan? Wujud dari kesedihan haru yang sebenarnya sedang menyelimuti jiwaku?. Mungkinkah langit ikut bersedih dengan kesedihanku? Meski tetap dia pertahankan kecerahannya untuk tetap cerah kepada manusia lainnya? ahh…langit, jangan bersedih, tetaplah gembira.
Selengkapnya...
| Kumaha Ceuk Maneh : |

