Wednesday, 8 February 2012

Manusia : Tahu Menuju Ketidaktahuan

Manusia, manusia lahir bersama kebodohan. Manusia lahir bersama ketidaktahuan. Manusia digariskan sebagai individu kosong tak bercorak. Namun, manusia diberikan sedikit demi sedikit kemauan. Mulanya, manusia tak lebih hanya seekor binatang. Tapi manusia punya perkembangan. Manusia, mulanya tak berakal. Tapi memiliki potensi untuk berakal. Manusia, tak sempurna, tapi selalu mengejar kesempurnaan.

Dia hidup tanpa bekal pengetahuan. Untungnya, setiap apa yang dilihat, setiap apa yang diraba, setiap apa yang didengar, dan yang dicium, selalu menjadi nilai belajar. Nilai yang membuat dia semakin tahu, dan tahu.

Awalnya tak berdaya, tapi akhirnya sok mahadaya. Awalnya hanya binatang, tapi lama-lama berangan menjadi tuhan. Awalnya hanya keluguan, tapi semakin lama semakin pongah. Awalnya hanya mencoba, tapi akhirnya merasa paling ahli.

Manusia lahir dengan ketidaktahuan, maka itu dia mencari tahu. Segala hal yang ada dicari pengetahuannya. Selalu ingin tahu, selalu ingin semuanya tahu. Saking berhasratnya ia untuk menjadi tahu, sampai-sampai ia lupa bahwa ia diberikan penyesalan.

Ketika tahu, betapa senangnya. Gembiranya ia semakin menjadi tahu. Sehingga dengan ia tahu, akhirnya menciptakan pengetahuan baru. Setelah tahu ia menjadi sombong atas pengetahuan yang dipunya. Ah, betapa bahagianya menjadi seorang yang tahu. Tahu segalanya, tapi jadi lupa segalanya.

Manusia tahu, semakin tahu, bahwa pengetahuannya hanya membuatnya sadar bahwa dia tidak tahu dan tidak sadar. Semakin banyak ia tahu, semakin banyak yang ia tidak tahu. Ia lupa, bahwa dengan tahu, ia akan mencapai satu pengetahuan yang membuatnya tahu bahwa ia banyak melupakan sesuatu. Ia lupa, bahwa orang yang tahu, akan menyesalkan bahwa ia tahu. Ia lupa, bahwa tahu akan mengantarkannya pada pengetahuan yang mebuatnya akan melupakan pengetahuannya. Ah, sungguh kasian menjadi seorang tahu. Tahu segala, tapi menjadikan lupa segala, dan penyesalan yang tersisa.

Pada saatnya, seorang yang tahu akan menyesali atas pengetahuannya. Itu alasan kenapa masa kecil adalah masa indah untuk mencari tahu. Karena, setelah tahu, maknanya seorang akan semakin memandang dunia lebih terbatas. Terbatas karena pengetahuannya. Padahal pengetahuan adalah hal yang luas. Tapi karena tahu, kesempitan semakin terlihat jelas.

Sungguh menyesal menjadi tahu, karena dengan tahu, jadi tahu bahwa hal yang tak perlu diketahuipun diketahui. Tahu, menahu itu hanya bagian sebuah proses mencari pengetahuan. Tapi setelah semuanya tahu, akhirnya dengan tahulah kita semakin ingin untuk menjadi tidak tahu.
Sebuah titik ketika semua ke”tahu”an dan pengetahuan adalah hal yang paling menyiksa. Yang membuat semua syak dan prasangka bermunculan. Yang membuat semua sadar, bahwa tahu adalah sebuah proses untuk sadar bahwa kita terlahir untuk ketidaktahuan. Dan ketidaktahuan adalah puncak dimana seseorang tahu bahwa dia tidak tahu.

Dan akhirnya, semua tahu akan dikembalikan. Tahu akan menjadi bumerang yang kembali setelah melewati titik jauh dari wadah ketahuan. Dan setelah jauh, semakin sadar, bahwa manusia lahir untuk tahu, tapi tahu membuat sadar, bahwa tahu adalah jalan untuk mengantar manusia kembali menuju titik lahir : bodoh dan tidak tahu.
Selengkapnya...

Sunday, 18 December 2011

Kepentingan Untuk Mengganti Korupsi Dengan Maling

Selamat waktu ketika anda baca blog ini...
Selamat juga anda pusing membaca blog yang kurang bagus ini..

Ingin menulis sebenarnya tentang apa saja, tapi akhir-akhir ini aku tak ada ide untuk dituliskan. Tapi sekarang saya coba paksa untuk menulis apapun yang mungkin saja bisa penting, mungkin saja tidak. Karena jika berbicara penting atau tidak, selalu akan tergantung pada kepentingan. Ada sebuah kutipan yang cukup cocok jika berbicara tentang kepentingan, yang intinya kepentingan merupakan keabadian. Kurang lebih seperti ini bunyinya ; "Tidak ada kawan yang abadi, tidak ada lawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan dan perubahan". Sudah jelas tentunya, perubahan adalah keabadian. Dunia ini meski terkadang membosankan, tak pernah berjalan stagnan. Selalu saja perubahan itu ada, baik progresif, ataupun regresif. Tak apalah, jika perubahan memang tetap akan berjalan, karena perubahan memang diperlukan. Tapi satu lagi yang perlu digaris bawahi dari kutipan diatas, ada yang abadi yaitu kepentingan.

Sekarang, saya akan berbicara tentang salah satu elemen yang abadi ini. Kepentingan dilihat dari sudut Humanisme memang berada pada setiap step hirarki kebutuhan manusia. Memang bisa dikaitkan antara kebutuhan dengan kepentingan? Menurut saya sih, bisa. Kenapa bisa? Jika kita talar, kepentingan selalu didesak oleh kebutuhan manusia. Menjadi penting itu berasal dari dorongan kebutuhan yang belum dipenuhi. Artinya, penting menurut kacamata manusia adalah kebutuhan. Jika manusia tidak butuh, ya tidak akan penting. Misalkan, mobil itu penting? Jawabannya tergantung desakan kebutuhan. Seperti ini loh analoginya, Seorang rakyat yang lapar, ditawari mobil itu tak akan mau. Karena, yang sedang dia butuhkan adalah nasi, karena dia sedang lapar. Namun, jika ia sudah kenyang, dan akan pergi ke suatu tempat yang jauh, maka mobil itu akan menjadi penting untuknya. Dan setelah semua terpenuhi dia akan mencari hal yang penting-penting lainnya, sesuai kebutuhannya.

Perlu kita imani, bahwa manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Kebutuhan manusia akan selalu datang. Maka wajar kalau manusia merupakan makhluk yang pragmatis, karena kebutuhan manusia tak akan pernah berhenti. Jika dikaitkan, kepentingan manusia juga linier dengan kebutuhan, maka sintesisnya, kepentingan manusia tak akan pernah juga habis, dan juga artinya logika kepentingan adalah sesuatu yang abadi diterima.

Beberapa hari yang lalu, kawan saya meminta saya untuk menjadi pembicara dalam sebuah kajian di komunitas mahasiswa. Tema yang diberikan adalah tentang "Korupsi dalam perspektif Mahasiswa". Namun, kala itu saya tak bisa hadir karena ada kepentingan lain, permintaan itu saya tolak. Tapi, saya ingin sedikit mengulas tentang hal itu kali ini.

Mengkaji tentang korupsi, dapat dimulai dari pengertian apa itu korupsi. Tapi, sebelumnya saya ingin mengatakan terlebih dahulu bahwa waspadalah jika berkata korupsi, jangan terlalu banyak disebut. Kenapa memangnya? Ada sebuah kutipan, atau apalah itu namanya yang mengatakan bahwa ketika suatu kata disebut dan menjadi populer, maka kata itu akan kehilangan maknanya. Inflasi kata "Korupsi" kini memang benar-benar terjadi, setiap media massa, setiap hari pasti tertulis kata korupsi. Dan akhirnya, menyebabkan korupsi menjadi kata populer dan kehilangan makna. Bahayanya, ada sebuah penelitian di India, oleh Singh pada tahun 1974, menyatakan penyebab korupsi adalah salah satunya ialah populernya persepsi tentang korupsi. Ini sungguh mencengangkan bukan?(saya yakin anda tidak tercengang..hhe). Tapi benar juga, kata korupsi ini pantas ditabukan, agar korupsi tak menjadi persepsi populer dan dianggap biasa, karena korupsi adalah masalah yang serius. Jadi, hati-hati mengatakan korupsi, agar seperti kata 'maling' yang tak banyak disebut dan tak kehilangan makna, korupsi pun harus disejajarkan dengan perbuatan rendah seperti maling dan orang akan memaknai lebih dalam dan berhati-hati untuk melakukan korupsi.

Waduh, jadi melebar ini tulisan. Oke, kembali ke leptop! Kata korupsi, berasal dari bahasa Latin ; Corruptio dari kata kerja Corrumpere (http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi). Kenapa saya kutip dari Wikipedia? karena saya tertarik dari artikel ini tentang mengartikan korupsi yaitu sebagai kata perbuatan yang berarti BUSUK! Yang lain mengartikan korupsi itu dengan halus, kenapa harus diperhalus perbuatan yang rendah ini? Saya setuju, korupsi adalah busuk. Jadi, koruptor itu adalah manusia busuk. Pengertian secara etimologis, cukuplah kita artikan bahwa korupsi itu busuk. Secara definisi saya ingin mengutip kata Wertheim, saya tertarik mengutipnya karena mungkin agak relevan pada apa yang akan saya tulis. Wertheim menyatakan bahwa seorang pejabat dikatakan melakukan tindakan korupsi bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Kadang-kadang orang yang menawarkan hadiah dalam bentuk balas jasa juga termasuk dalam korupsi.

Meskipun, korupsi tidak melulu berada pada tataran pejabat, tapi yang paling sering perbuatan ini dilakukan pada wilayah birokrasi. Poin korupsi menurut Wertheim yang pertama ialah "..bila ia menerima hadiah dari seseorang yang bertujuan mempengaruhinya agar ia mengambil keputusan yang menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah.." Ini sedikit mengoreksi pengetahuan awam tentang korupsi. Korupsi tidak melulu mengambil hak orang, tapi juga menerima, perbuatan halus yang bernilai rendah pada konteks ini. Hal tersebut populer disebut sebagai Gratifikasi. Menerima hadiah agar mempengaruhi keputusan pejabat agar menguntungkan si pemilik kepentingan. Pada tataran pemerintahan di Indonesia, hal ini yang sering dilakukan. Tidak secara langsung pejabat 'maling' duit rakyat, namun maling dengan cara memuluskan jalan untuk maling. Korupsi yang satu ini mungkin cara yang paling elegan bagi pejabat, karena akan sulit ketahuan, dan juga akan ditafsirkan dengan berbagai jalan. Salah satu contoh yang paling hangat adalah kasus Nyunyun istrinya mantan Wakapolri Adang Darajatun (Nunun Nurbaetie), anggota hewan (Anggota Dewan), dan Asmirandah gultom (Miranda Gultom). Si Nyunyun yang ramai diberitakan katanya punya penyakit "lupa", membagi-bagikan 480 cek pelawat senilai 24 milyar kepada anggota hewan agar anggota hewan memuluskan jalan si Asmirandah menjadi Gubernur BI. Dan hasilnya, si Asmirandah berhasil jadi Gubernur BI. Saya tak akan banyak membahas si Nyunyun ini lah, nanti ngerasa kepentingan lagi itu si Nyunyun banyak diomongin sana sini. Tapi ini merupakan salah satu tindakan korupsi yang dilakukan.

Sekilas, kita lihat kasus Nyunyun ini seolah biasa. Kenapa biasa? Ya, wong si Nyunyun udah baik hati kok bagi-bagi duit ke anggota hewan. Tapi, jika ditelisik ada udang di balik batu ternyata. Nyunyun inginnya, si Asmirandah menang dalam pemilihan Gubernur BI. Jadi disini ada unsur kepentingan dibalik Nyunyun yang dermawan ngasih duit ke anggota hewan. Akhirnya, perilaku korupsi terjadi dalam hal ini, karena ada unsur menguntungkan kepentingan si pemberi hadiah. Jadi siapa yang koruptor? Nyunyun, Asmirandah, dan para anggota hewan yang dapet bagian. Betul, yang berperilaku korup itu tak hanya Nyunyun yang memberikan Gratifikasi, tapi juga yang menerima hadiah, dan yang diuntungkan pula. Untuk hal ini korupsi memang kompleks dan tak dapat dibahas dalam kolom yang terbatas. KPK saja butuh waktu setahun kata Busyro Muqaddas untuk menyelesaikan kasus korupsi. Mana Nyunyun lupa ingatan lagi, ya tambah lama. Tapi, secara simpel titik masalahnya ada disana, dimana ada kepentingan yang bermain. Dan, jika kita kembali pada apa yang telah saya tulis tadi, maka ini didorong oleh kebutuhan Nyunyun dan si Asmirandah juga. Butuh apa mereka? entahlah, mungkin apa lagi yang paling logis selain jabatan dan duit untuk memperkaya diri. Dan ini berarti ada unsur 'maling' duit rakyat. Ini : Busuk.

Mengkaji korupsi, apalagi oleh mahasiswa, tak perlu terjebak dalam fenomena kasus. Tapi, pantas dikaji dari sisi makna. Karena, jika salah memaknai korupsi, maka salah kaprah pula si Agen op Cengeng dalam merubah tatanan. Hal ini menjadi logis karena jika tak berangkat dari makna, dan terlalu terjebak pada kasus, akan menjadikan pisau penyelesaian penyakit tumpul. Karena, hal ini diibaratkan sudah menjadi benalu atau juga kanker yang sangat kronis. Percuma saja jika benalu itu dibersihkan, atau tumor dipotong, tapi akarnya tidak tercabut. Kasus itu akan terus muncul dan tak pernah berhenti menjangkit negeri ini. Ini akan menjadi bahaya jika dari hal yang elementer tidak diselesaikan. Bahayanya, negara ini akan gagal. Seperti halnya gagal ginjal, negara gagal akan mematikan semua organ yang ada didalamnya. Dan ini jelas menjadi tugas mahasiswa untuk mengatasinya. Karena, ya siapa suruh pengen disebut Agent Of Change, meski nyatanya hanya Agen op Cengeng.

Yang perlu dimaknai, korupsi ini timbul dari hal yang abadi, yaitu "Kepentingan". Kepentingan seperti sedikit diulas tadi didorong oleh yang namanya kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia adalah hal yang tak akan pernah selesai. Jadi dapat dikatakan bahwa korupsi, selama dijadikan salah satu pemenuh kebutuhan, tidak akan pernah selesai. Artinya, yang diperlukan adalah bagaimana menjadikan korupsi itu tereliminasi dari daftar pemenuh kebutuhan manusia. Caranya dengan mempersempit kesempatan untuk menjadikan korupsi sebagai salah satu pemenuh kebutuhan manusia. Karena korupsi ini sering terjadi di tataran birokrasi dan pemerintahan, maka penyempurnaan aturan atau undang-undang yang seminimal mungkin mempersempit kesempatan untuk melakukan tidakan ini. Ainan (1982) menyebutkan bahwa salah satu yang menyebabkan tindakan korupsi ini muncul, yaitu karena kurang sempurnanya perumusan undang-undang. Maka dari itu, penyempurnaan undang-undang menjadi penting untuk menghilangkan kepentingan koruptor.

Selain itu, yang perlu dilakukan mahasiswa adalah memupuk benih generasi bangsa agar tidak menjadi generasi bangsat. Satu yang paling esensial dalam mewujudkan hal ini yaitu kejujuran. Kejujuran di negeri ini sudah sedemikian kritis, bahkan mungkin sudah setengah mati. Karena kejujuran sudah dijadikan sebagai hal yang disebut "so suci" atau "kuno" jika jujur. Itu sebenarnya virus yang ditularkan oleh para bangsat sebenarnya, dan menjadi konsensus dengan sendirinya. Jujur itu menjadi hal yang harus menjadi iman para mahasiswa, karena menjadi mahasiswa adalah belajar untuk jujur sejak dalam pikiran. Contoh yang paling dekat dengan mahasiswa adalah fenomena menghalalkan segala cara demi hal yang tidak penting, Nilai! Mahasiswa kadang melakukan segala cara demi IP 4,0. Mulai tugas yang copy paste tanpa mengutip sumber, mencontek dalam ujian, dan berbagai cara 'cerdik' lainnya demi hanya nilai dari dosen. Ini sungguh tolol dilakukan mahasiswa, karena dengan cara itu saya katakan anda tak akan menjadi berkualitas. Mahasiswa tak akan menjadi berkualitas jika lulus dengan nilai IPK 4,0 dengan tidak jujur pada diri sendiri. Meskipun semua selalu melihat dari besaran nilai, tapi akhirnya yang akan menjadi bukti adalah kualitas dalam kenyataan. Coba pikir wahai Agen op Cengeng..

Dan yang terakhir, saya ingin katakan dari dulu sekali tentang hal ini. Semua orang, tolong, mulai sekarang ganti kata korupsi maupun koruptor dengan kata "Maling!" atau "Bangsat" saja. Karena perbuatan busuk yang disebut dengan istilah keren akan menjadi tren. Kata korupsi sulit diartikan oleh awam, tapi kata maling, akan mudah dimengerti dan yakin tak akan menjadi trendi. Saya selalu yakin, kenapa korupsi terlalu merajalela di negeri ini, karena korupsi telah menjadi tren dan dianggap biasa, malah mungkin hal yang wajar dilakukan pejabat. Seperti halnya wajar petani itu mencangkul, korupsi juga akan menjadi wajar oleh pejabat. Dan apa salahnya pula dikatakan seperti itu, biar para koruptor itu sadar, mereka yang menjabat itu tolol, sudah punya kedudukan terhormat tapi berbuat hal yang memalukan : Maling!. Kata Nagabonar itu "Apa Kata Dunia?"

Sekian tulisan dari saya, kesimpulannya, silahkan simpulkan sendiri-sendiri lah biar fair,, kalau tidak mengerti, dan tulisan ini jelek, ya mohon maklum lah, saya penulis pemula.. hehe.. Semoga bermanfaat, terimakasih sudah menyempatkan membaca ceracau saya yang mungkin kurang penting bagi anda. :)
Selengkapnya...

Tuesday, 27 September 2011

Belajar Adalah Kebahagiaan


Ah, bertemu kembali dengan tulisanku yang masih acak-acakan dan tak puguh jugjrug. hehe..
Malu sebenarnya saya ini memperlihatkan kembali tulisan di blog ini, karena sekian lama aku tinggalkan media pribadiku ini.. *banyak "ini"nya,,, yah,,inilah..

Berbulan-bulan kulalui tanpa sepatah katapun aku tulis. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin menulis, tapi entah setan apa yang masuk ke dalam dadaku, semangat untuk menulis itu dengan mudah luntur, dan malah menjadikanku lebih senang berbaring ditempat tidur.

Bulan demi bulan yang telah kulalui belakangan ini memberikanku banyak peristiwa dan makna yang dapat difikirkan dan dijadikan pelajaran. Namun, karena terlalu banyaknya peristiwa yang kulalui, aku jadi lupa dan bingung, dari titik mana aku harus menuliskannya, sungguh terlalu banyak. Mungkin, inilah yang disebut dengan kebingungan yang tak terstruktur.. hehe.. apa tuh?

Sebenarnya, jika aku mau menarik makna dari perjalanan hidup yang telah kulalui, aku bisa. Tapi apa daya, rasa haroream dan kedul yang menggunung membuatku hanya terbaring tanpa melakukan apapun. Ah, benar kata Rasulullah S.A.W : "Alkasalu da'unn" sungguh malas itu penyakit. Padahal, jika aku ambil makna dari hidup yang kujalani, mungkin aku akan lebih bijaksana dan mendapatkan banyak ilmu. Seperti sebuah kutipan yang pernah aku baca di buku..mmmh..yang mana ya, kalau tak salah bukunya Paolo Freire dan Ivan Illich yang judulnya "Menggugat Pendidikan", katanya di dalam pengantar, "setiap orang pernah menemukan apel yang jatuh, dan dari sekian banyak itu tak ada yang menghasilkan apa-apa dari kejatuhan apel dikepalanya, kecuali makian dan cacian, namun hanya Newtonlah yang dapat mengambil satu kebijaksanaan dari kejatuhan apel itu, dan menciptakan suatu teori gravitasi yang bermanfaat sepanjang masa.." Itulah, aku yakin sebenarnya disetiap peristiwa yang pernah kita lalui itu bermakna dan dapat dijadikan suatu pelajaran."

Namun, yang jadi masalah, kita terlalu disibukkan dengan fikiran-fikiran instan tentang kata belajar. Kenapa demikian? ya, kita terlalu terperangkap dengan keformalan-keformalan yang sehari-hari disuguhi. Padahal, belajar bukanlah hal yang perlu berada pada ranah formal saja, namun belajar juga dapat dilakukan kapanpun asal disadari dan dimaknai. Jika kita terawang ke abad-abad awal, penemuan ilmu bukanlah berasal dari sekolah atau pendidikan terstruktur lainnya. Melainkan berasal dari sikap skeptis, dan keradikalan dalam berfikir.

Coba tengok, Thales dari Milethus, sang filsuf pertama, pemikiran-pemikiran dia berasal dari diskusi-diskusi dan waktu luang yang dia dapatkan ketika dia selesai berdagang. Dia, seorang yang meletakan batu pertama tentang ilmu filsafat, geometri, astronomi, dan sering juga disebut sebagai enterpreneur pertama, mendapatkan pengalaman intelektualnya bukan dari sekolah. Namun, dia menemukan segala kebijaksanaan ilmunya dari berbagai pengalaman dan perjalanan hidupnya. Melalui diskusi-diskusi di waktu luang, yang jelas-jelas bukan dari ruangan sempit berbangku dan berguru. Dia mencari guru dari alam, dan pengalaman yang dimaknainya sehingga dia mendapatkan suatu kebijaksanaan ilmu. Bahkan, dia mengatakan bahwa orang yang bahagia adalah orang yang selalu belajar, seperti yang dikatakan Thales orang yang bahagia adalah "Orang yang sehat jasmaninya, kaya jiwanya, dan mau belajar sepanjang hidupnya.. Tuh nya, ceuk si taleus ge, diajar mah dimana we,, hehe..

Dari kutipannya tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa belajar, yang selama ini (mungkin) dianggap sebagai beban, kewajiban yang mengikat, identik dengan "berat" atau hal yang negatif lainnya, seharusnya dijadikan sebagai jalan untuk mendapat kebahagiaan. Bahagia seharusnya ketika kita belajar, dan janganlah kita mempersempit ruang gerak kita untuk belajar hanya di kelas atau disekolah saja, bahkan disetiap watu dan tempat adalah ruang untuk pencarian kebenaran. Ya, benar, waktu adalah hal yang paling bijaksana karena waktu akan menyingkap segala kebenaran.

Masih belaum yakin? Kita beranjak ke tokoh yang kedua, masih dari dunia filsafat yang memang menjadi ibu dari segala pengetahuan yang berkembang. Yang saya akan ceritakan saat ini adalah seorang bapak tua, hehe..bukan, tapi bapak filsuf modern. Siapa dia?? Ya, benar... dialah Rene Descartes. Descartes adalah orang yang disebut-sebut sebagai bapak filsafat modern dunia. Kenapa? Karena, dari hasil pemikiran filsafatnya, menjadi inspirasi bagi generasi filsuf yang hidup setelah dia. Pemikiran-pemikirannya dijadikan landasan dari pengembangan ilmu-ilmu di masa setelahnya. Dalam sejarah barat modern, dia sangat berpengaruh besar, pemikirannya menggiring para filsuf generasi setelahnya untuk membentuk apa yang disebut sebagai "Rasionalisme Kontinental". Jika anda menyaksikan aliran-aliran modernisme yang sekarang kita lihat, nah, si bapak tua inilah yang sedikit banyak membantu meretasnya.

Dia memang seorang yang cukup hebat, kenapa? bayangkan, waktu dia berumur 9 tahun, dia sudah belajar logika, filsafat, fisika, dan etika. Sepanjang hidupnya dia tak henti belajar, sehingga dia banyak menelurkan beberapa karya yang menjadi tilam dasar pengetahuan modern. Kutipan yang sangat terkenal yang pernah dia katakan adalah "Cogito Ergo Sum" Naon tah si sakadang Cogito Ergo Sum teh? Artinya yaitu "Aku berfikir, maka aku ada"! yah, pasti pernah kita mendengar kalimat itu. Dan jika kita refleksikan, itu sangat dapat kita setujui. Yang dinamakan ada itu ya ketika kita berfikir. Coba saja, dalam sekelompok orang, keberadaan orang yang berfikirlah yang eksis dan dikatakan ada. Bener ga? Okeh, kita coba analogikan, anda tau Albert Einsten? Anda tau Isaac Newton? Atau anda tau Thomas Alfa Edison? yang tak tahu, berarti belegug tah. hehe... Anda pasti tau, tapi coba saya tanya, Siapakah nama tetangga Albert Einsten? atau siapakah teman bermain Newton waktu dia kecil? Anda tahu? Bere permen tah mun nyaho, tapi sapotong digegel heula ku uing.

Ya, anda pasti tidak akan kenal, kenapa? karena mereka tidak berfikir seperti Einsten maupun Newton. Dan disinilah yang disebut bahwa keberadaan atau keeksisan seseorang itu berasal dari keberfikirannya. Aku berfikir, maka aku ada. Jadi, dapat disimpulkan, jika anda tidak pernah berfikir, anda adalah bukan apa-apa bagi dunia, dan jika anda berfikir, dunia adalah segalanya untuk anda. Maka berfikirlah, darimana kita berfikir? ya berasal dari belajar. karena belajar adalah suatu kegiatan berfikir, dimana kita tidak berfikir, kita tidak belajar.

Seperti apa yang dikatakan Pramudya Ananta Toer, tau kan siapa dia? ah, asa piraku we teu apal mah. Dia pernah mengatakan dalam bukunya, "Orang boleh hebat, sehebat apapun didunia ini, tapi selama dia tidak menulis, dia tidak akan tercatat dalam sejarah". Menulis itu berasal dari fikiran, kita mungkin sering menulis, tapi apakah tulisan kita berasal dari kegiatan berfikir? sungguhlah, tulisan yang akan membuat kita tercatat dalam sejarah adalah tulisan yang bermakna dan berasal dari keberfikiran kita. Pram juga pernah mengatakan hal yang sama yang pernah dikatakan oleh Thales tentang belajar merupakan sebuah kebahagiaan. Pram mengatakan dalam bukunya yang berjudul "Bumi Manusia" salah satu tetralogi pulau buru, dia mengatakan "Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai : ilmu pengetahuan telah memberikan padaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya." Ahh... sungguh kalimat yang sangat elok, disana tersirat bahwa sungguh menyenangkan dan bahagianya ketika memiliki ilmu pengetahuan. Dan sudah barang tentu, ilmu pengetahuan itu bukan berasal dari "ujug-ujug" ataupun berasal dari jimat mbah dukun, tentunya ilmu pengetahuan itu didapat dari proses belajar.

Nah, begitulah sodara-sodara sebangsa tanah dan sebangsa air, ceracau saya tentang apa yang dinamakan belajar, sebenarnya masih banyuak yang saya ingin katakan dalam tulisan ini, namun apa daya seluruh badanku cangkeul dan sangat linu, karena duduk terbungkuk pantat tepos diatas tembok dingin kosan berjam-jam. Mungkin, saya akan lanjutkan tulisan saya tentang belajar yang open minded, atau belajar yang tidak mengalami penyempitan persepsi. Ini hanyalah pengantar saja, pengantar untuk muntah, pengantar untuk berak, pengantar untuk pingsan, hehehe... Tapi insya allah, jika saya berkenan, saya akan lanjutkan tulisan tentang hal ini (Loh?), karena banyak yang ingin saya katakan, misalnya tentang metode pendidikan kritis atau pendidikan yang membebaskan, yang mengupas tentang kesalahan pendidikan yang konservatif dan fundamental yang masih dipertahankan sampai saat ini. Di lain waktu jika saya tergerak kembali untuk menulis, saya akan menulis.. insya allah...
Sekian dari sayah, wallahu a'lamu bishawab.
Selengkapnya...

Tuesday, 11 January 2011

Smile And Happy... For A Better Life

Entah kenapa hari ini aku tergerak untuk menulis, mungkin moodku sudah terkumpul, tapi yang jadi permasalahan,,apa yang harus aku tulis? Keinginan itu ada, tapi otak ini kosong!

Okay, saya mulai, oyah.. ini merupakan tulisan pertamaku di tahun yang baru, tahun seteleh 2010 dan tahun yang kebetulan juga sebelum 2012. Ya, 2011! Di tanggal sebelas, dan di bulan satu.. ah tapi itu tidak penting, apalah arti tanggal dan angka-angka itu, karena yang penting adalah kita bagaimana mengisi hari ini dengan sangat bahagia. Iya, bahagia, karena kalau kita terus murung tak bahagia, berarti anda sedang depresi! Hehe…

Di awal tahun ini memang tak ada sesuatu yang aneh atau yang baru, kecuali satu… ada yang baru..hehe…ya karena sekarang dominan dengan angka satu, yang kecualinya juga Cuma satu, mau tau? Mau tau?? Jreng..jreng… ini loh yang baru, namanya : SEMANGAT!

Ya, semangat inilah yang harus aku perbaharui di hari yang baru ini, karena di tahun 2010 kemarin aku memang sangat dipusingkan dengan hal-hal yang tidak penting, dan tidak banyak membuat apapun yang berarti, hari hari kemarin memang suram, namun jika terus tenggelam dalam kesuraman, itulah bencana! Karena jika dibiarkan kita akan terus mengalami kesusahan dalam menjalani kehidupan. Dan dipagi hari pada tanggal ini aku sedang mendengarkan lagu dari FRENTE dengan judul, Open Up You’r Heart [And Let The Shunshine In]. Lagu inilah yang menggambarkan suasana hatiku pagi hari ini, berikut isi liriknya :

Mommy told me something
a little kid should know.
It's all about the devil
and I've learned to hate him so.
She said he causes trouble
when you let him in the room.
He will never ever leave you
if your heart is filled with gloom.

So let the sun shine in
face it with a grin.
Smilers never lose
and frowners never win.
So let the sun shine in
face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in.

When you are unhappy,
the devil wears a grin
But oh, he starts to running
when the light comes pouring in
I know he'll be unhappy
'Cause I'll never wear a frown
Maybe if we keep on smiling
He'll get tired of hanging 'round.

If I forget to say my prayers
the devil wears a grin.
But he feels so awful awful
when he sees me on my knees
So if you're full of trouble
and you never seem to win,
Just open up your heart and let the sun shine in.

So let the sun shine in
face it with a grin.
Smilers never lose
and frowners never win.
So let the sun shine in
face it with a grin
Open up your heart and let the sun shine in.

Dalam lirik yang dinyanyikan oleh Angie Hart bersama bandnya ini sunggguh menjadi pemicu semangat, dalam liriknya tersirat bahwa kita haru segera membuka hati kita untuk melihat kecerahan dunia, karena jika tidak, hidup kita akan dirundung setan-setan yang hanya menciptakan masalah dalam hidup kita, dan si setan itu takkan meninggalkan kita jika hati kita diisi dengan kemurungan, kegelapan kesedihan maupun kekelaman, jadi marilah kita buka hati dengan keceriaan dan hadapi sang mentari dengan tersenyum lebar.

Tersenyum lebar, ya, kita tak boleh terlepas dari tersenyum, kita harus tetap mengisi kehidupan kita dengan gembira, karena dengan itulah kita dapat melalui kehidupan kita dengan mudah dan penuh semangat. Dalam lagu diatas, Frente memberikan pesan bahwa : Smilers never lose ! and frowners never win! So let the sun shine in! Yeah,,itulah yang aku suka, yang tersenyum takkan pernah kalah dan yang bermuka masam takkan pernah menang! Jika dikaitkan dengan pencapaian target kehidupan, ungkapan itu sangat masuk akal, kita sekali-kali takkan pernah meraih kemenangan dan kebahagiaan ketika kita menghadapi masalah dengan muka masam, tapi ketika kita menghadapi semua tantangan dengan senyuman dan kebahagiaan, apapun hasilnya, kita akan tetap menang.

Jadi, intinya kita harus tetap menghadapi segala tantangan dan masalah yang dihadapi dengan senyuman dan mengalahkan setan-setan murung yang akan mengikuti kita ketika kita murung.
Just open up your heart and let the sun shine in...Everybody

Selengkapnya...

Thursday, 30 December 2010

Memori Sesaat

Pagi mulai datang. Ahh,,matahari kini juga bersinar seakan menari untuk kebahagiaan dunia. Aku disini, tetap disini terbaring diatas kasur lepek di ruangan kecil berwarna biru, meski sempit terlihat ruangan ini dengan buku-buku kuliah dan baju-baju bekas yang berserakan yang tak sempat ku cuci, namun ini duniaku, dunia yang terbebas dari segala keresahan dan hiruk pikuk di luar sana. Hatiku hari ini sedang tidak biasa, perasaan bergejolak, bagaikan amukan eksplosif lahar gunung merapi. Aku tak tahu kenapa ini terjadi pada diriku, perasaanku terasa galau, namun ringan, seperti helaian kapas yang melayang jatuh diudara. Disini, dikamar ini aku ingin memulai suatu cerita, cerita yang mungkin biasa, namun kebiasaan itulah yang membuat hal ini tidak biasa.

Dengan langkah gontai dan penuh kemalasan, aku keluar dari peraduanku menuju ruangan yang biasa dipakai orang mandi. Apalah itu namanya, yang penting tempat mandi. Aku segera membasuh mukaku dan mulai menanggalkan pakaian untuk segera merasakan guyuran air yang dingin. Aku berharap, dengan ini aku bisa segar, karena sudah sehari kemarin aku tidak mandi. Bukan aku tidak mau, tapi rasa malas ini sunggguh kuat. Setelah itu, biasa, aku memakai pakaianku kembali, yang berbeda tentunya dari kemarin. Aku lalu terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan aku lakukan hari ini. Ahh, betapa bodohnya aku ini, menentukan apa yang akan aku lakukan hari inipun aku harus berfikir lama.

Lalu aku putuskan untuk jalan-jalan ke tempat yang sangat dekat, namun tak pernah aku lalui.Akupun berjalan dengan penuh harapan akan menemukan kebahagiaan, entah itu menemukan uang satu koper di jalan, atau menemukan seseorang yang mau memberiku sebuah mobil mewah. Aku terus berjalan menyusuri jalanan ke kampusku, kampus yang hampir tahun kedua aku belajar di dalamnya. Dengan langkah dan tatapan yang kosong, aku berjalan sendiri, oh, betapa sepi hari ini, mahasiswa-mahasiswa memang sedang libur, karena pekan ini memang pekan sunyi.

Setelah lama aku berjalan, tak terasa aku sudah sampai ditempat dimana aku rasa tempat ini belum pernah aku datangi sebelumnya. Tapi sungguh indah jika berdiri diatas tembok ini. Tembok depan bangunan sejarah yang berdiri dengan sombongnya. Aku lihat, dari sini, bangunan yang penuh tirani ini sungguh sombong memandang hamparan rumah-rumah dikota ini. Huum, bangunan megah berwarna putih ini pasti membuat iri para rakyat yang sampai saat ini tak punya akta tanah, meski telah berpuluh tahun berdiam. Aku, tak peduli megahnya bangunan ini, bangunan bersejarah yang dahulu diperuntukkan bagi orang pengasingan, kini dijadikan kantor para pejabat bergelar profesor.

Akupun kembali memalingkan mukaku dari bangunan itu, memandang hamparan kota yang terlihat seperti mangkok. Semilir angin menemaniku disini, berdiri dengan pikiran yang kosong, dan juga tatapan yang masih kosong. Aku tak takjub sedikitpun, tapi hembusan angin dan riak air membuat perasaanku terasa indah. Akupun duduk, kembali melamun sembari melihat indahnya mega putih di jagat yang biru.
Seketika aku teringat tentang cerita hidupku yang penuh liku. Hari ini memang aku mendapatkan hal yang sangat membuat hatiku rapuh. Ya, aku, aku yang dikenal oleh seseorang sebagai seorang yang kelihatannya tegar namun aslinya rapuh. Dia, satu-satunya orang yang bilang itu kepadaku, memang karena dia sangat mengenalku, dan sebaliknya diriku yang bodoh, tak pernah mengenalnya dan menyia-nyiakan keberadaannya ketika didekatku, dan kini aku menyesal dibuatnya ketika dia memang benar-benar pergi dari hidupku.

Angin yang semakin kencang meniupkan ejekan kepadaku, seakan ingin menerbangkan sisa-sisa tubuhku yang terpecah karena rapuh. Aku terima, meski diriku tak goyah sedikitpun dari lamunanku. Ini memang cerita, aku tau benar apa yang terjadi sebenarnya, aku kecewa ketika kalimat itu masuk ketelingaku, telinga yang kecil, namun sampai menggetarkan hati dan jiwaku. Rasa yang penuh rahasia sungguh purna sekarang.aku takkan mengharap lagi sesuatu yang diluar kendaliku. Perlahan aku putuskan akan menerbangkan segala apa yang kurasakan saat ini. Bersama angin, bersama riak air yang penuh ikan mas dibelakangku. Ingin rasanya aku buang jauh-jauh pikiran ini, andai aku bisa mengambil sebagian ingatanku tentangnya untuk ku buang ke kolam dibelakangku, dan aku harap ingatan ini dimakan para ikan yang kelaparan.

Satu persatu ingatan yang runut aku buang, dimulai ketika dia masuk dalam ingatanku, panggilan dia kepadaku yang pertama, yang membuat aku tersenyum sendiri.ah,,biarlah, ini tak perlu ku buang, biarkan tetap tersimpan, karena terlalu indah. Lalu memori kedua, gurauan-gurauannya yang sungguh membuatku tersenyum bahagia, oh, sungguh indah, tapi tak bagus jika aku terus terbuai dengan memori indah ini, ini akan membuatku tenggelam dalam ingatan yang tak nyata keberadaanya. Ini harus ku buang, meski berat. Dan begitupun dengan memori-memori selanjutnya, yang pernah menyelam ke dalam palung hatiku yang dalam, berenang, dan bermain-main dengan solar plexus dalam diriku. Sungguh, jika kuingat saat itu, saat yang indah dalam perjalanan hidupku, namun aku tak boleh terbuai dalam bayang semu yang tak tentu keberadaannya.

Kini, semua telah ku buang, aku terbebas lagi dari buaian buaian kosong yang berupa ilusi. Ini memang bagian dari pengalaman hidupku, hidup yang semu, namun kubalut dengan keindahan-keindahan nyata yang sebenarnya palsu. Dan kini aku kembali terduduk diam sendiri, menikmati lirih angin sendu sambil menatap pemandangan yang ternyata indah jika aku memandangnya dari sisi yang lain. Aku tak kecewa, namun sebaliknya aku bahagia, karena hatiku menginginkan kebahagiaannya, meski tak berwujud aku. Aku tengadahkan kepalaku ke langit senja hari ini. Rintik hujan mulai turun! Hey, ini suatu keanehan yang nyata, aku sangat lihat, langit diatasku tak berawan, sangat cerah, tapi kenapa rintik hujan mulai turun? Darimana datangya? Apakah ini yang disebut dengan hujan tanpa awan? Wujud dari kesedihan haru yang sebenarnya sedang menyelimuti jiwaku?. Mungkinkah langit ikut bersedih dengan kesedihanku? Meski tetap dia pertahankan kecerahannya untuk tetap cerah kepada manusia lainnya? ahh…langit, jangan bersedih, tetaplah gembira.

Selengkapnya...